Deteksi Dini Kerusakan Otak Sebaiknya Usia Berapa?

Ilustrasi Otak
Ilustrasi deteksi dini kerusakan otak (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta Penuaan terjadi bukan hanya kulit dan tulang, otak juga bertambah tua. Kondisi ini dapat menimbulkan beberapa penyakit seperti demensia dan Alzheimer pada lansia. Itu sebabnya penting juga melakukan medical check-up untuk mendeteksi penyakit kerusakan otak. 

“Dalam konteks penuaan di otak, setiap orang saat usia 40 tahun atau lebih muda, sebaiknya sudah pernah melakukanmedical check-up untuk mengecek faktor risiko termasuk deteksi dini kerusakan otak,” kata dokter spesialis saraf Yuda Turana.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran Atma Jaya Jakarta pada 2016, tes pemeriksaan saraf penciuman dapat mendeteksi tanda awal proses penuaan di otak yang berisiko demensia. 

“Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan aroma yang familiar dengan kondisi Indonesia. Bila pasien tidak mampu mengidentifikasi jenis aroma (kecuali saat pilek atau gangguan hidung lainnya) maka kemungkinan besar pasien menderita demensia”, jelas Yuda.

Selain itu, pemeriksaan MRI otak, pemeriksaan kognitif, pemeriksaan olfaktorius dapat digunakan untuk memeriksa gejala dari demensia.

Sampai sekarang demensia belum ada obatnya. Maka dari itu, kata Yuda, penting melakukan deteksi dini untuk memperlambat atau mencegah penyakit demensia dengan melakukan medical check up.

Dokter spesialis saraf Yuda Turana menerangkan tentang cara menjaga kesehatan otak di FK Atma Jaya Jakarta. (Foto: Febrianingsih Almako/Liputan6.com

Jaga Kesehatan Otak Sejak dalam Kandungan

Ilustrasi Otak (iStockPhoto)

Yuda juga mendorong masyarakat untuk menginvestasikan otak mulai dari usia dini. Jangan menunggu saat tua nanti.

Investasi kesehatan otak bukan dilakukan pada usia 50 tahun atau sejak kecil, tetapi sejak manusia dalam kandungan.

“Jika seorang ibu misalnya perokok, biasanya akan menjadi prediksi bahwa anaknya nanti akan tidak produktif dan ketika tua nanti akan pikun” tutur Yuda.

Artikel asli / Penulis: Febrianingsih Alamako

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *